Menikah Bukan Perkara Usia yang Sudah Menginjak 25 Tahun, Melainkan Siap untuk Hidup Bersama Sampai Kapanpun

Untuk kamu yang usianya sudah menginjak 25 tahun, pasti suka kesal ketika pertanyaan “kapan menikah” itu selalu dipertanyakan kepadamu. Apalagi ketika pertanya itu diembel-embeli dengan kalimat yang berbunyi, “usia kamu sudah 25 tahun, lho, sudah sepantasnya itu menikah. Nanti susah lho punya anak. Nanti jadi perawan tua, lho! Emang mau jadi perawan tua?? Bla blaa blaaa…” Teruntuk yang suka berkata seperti ini, hey! Menikah bukan perkara usia yang sudah menginjak 25 tahun! Jadi stop berkata seperti itu.

Setiap orang pasti punya rencana yang sudah ia bangun untuk dirinya sendiri. Di usia berapa ia akan sukses, di usia berapa ia akan menikah, di usia berapa ia akan punya anak, dan lain sebagainya. Namun, memang tidak semua rencana itu bisa berjalan seperti apa yang diharapkan. Sebab, manusia boleh berencana, namun tetap Tuhan lah yang menentukan segalanya.

Usia 25 tahun itu bukan patokan seseorang HARUS menikah. Jika memang jodohnya belum datang, lantas kamu bisa apa? Atau kalaupun jodohnya sudah ada, tetapi masih ada hal yang harus ia kejar, lalu harus bagaimana?

Memang, usia 25 tahun adalah usia kematangan seseorang. Namun, bukan berarti di usia itu semuanya harus ia capai. Sebab, setiap orang memiliki waktu yang berbeda dalam mencapai sebuah kesuksesan, serta dalam mencapai goals dalam hidupnya.

Menikah bukan perkara usia saja, melainkan juga siap untuk hidup bersama sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun

Menikah itu bukanlah perkara mudah. Bukan juga hanya perkara SAH. Dan menikah bukan perkara usia yang sudah menginjak 25 tahun. Tetapi menikah itu perkara siap untuk hidup bersama, menua bersama sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun.  

Setiap orang ketika hendak menikah tentulah yang ia inginkan adalah memiliki pasangan yang bisa saling mengerti satu sama lain. Dapat sabar atas segala kurangnya pasangan, dan bersyukur atas segala lebihnya pasangan yang ia miliki. Dan untuk memantapkan hati ke tahap itu tentu tidak mudah. Butuh proses sampai hatinya benar-benar mantap dan siap.

Jadi, berhenti untuk membebani mereka dengan pertanyaan kapan menikah. Sebab menikah itu bukan semudah pertanyaan yang kamu lontarkan kepada mereka. Jangan berfikir bahwa hidup setelah menikah itu selalu diliputi rasa bahagia. Hal yang sering kali salah diartikan oleh banyak orang. Berfikir bahwa menikah itu hanya perkara bahagia dan ke-uwuan semata. Tidak! Menikah tidak hanya perihal bahagia dan ke-uwuan semata! Kamu juga butuh ilmu akan pernikahan itu sendiri.

Saat dua orang yang memiliki karakter yang berbeda, sifat yang berbeda, disatukan dalam sebuah pernikahan, tentu akan membuat keduanya berusaha untuk beradapatasi dengan kondisi yang baru ini. Seberapapun kamu beranggapan bahwa kamu sangat mengenal pasanganmu saat belum menikah, ketika berumah tangga nanti pasti akan ada hal yang tidak kamu sangka ada pada dirinya yang selama ini tidak kamu ketahui dan bahkan mungkin sulit untuk kamu terima.

Niatmu mungkin memingatkan, tapi bagi mereka bisa saja itu menjadi beban!

Mungkin niatmu bertanya kapan menikah itu adalah untuk sekedar mengingatkan. Tapi kamu tidak pernah tau, bisa saja pertanya itu adalah beban bagi dirinya. Bisa saja niatnya untuk menikah begitu besar, tapi apa daya jodohnya belum kunjung datang. Atau mungkin dia belum siap sebab trauma dari lingkungan sekitar.

Jika memang niatmu untuk sekedar mengingatkan bertanya kapan ia akan menikah, cobalah untuk melihat situasi, kondisi dan suasana hati orang yang ingin kamu tanya. Agar pertanyaan itu tak menimbulkan kekesalan bagi ia yang mendengarkan dan juga tak menjadi beban yang akan ia rasakan nantinya.  

Baca Juga : Saat Pintamu Belum Terjawab, Hal Ini Perlu Kamu Ingat!

ilustrasi by : photologic.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: